Wali Sufi Maupun Wali Spiritual Akan Muncul dan Tampil Mendampingi Pemimpin Bangsa Indonesia Yang Dapat Menjadi Mercusuar Dunia

Post:Deta suryana

PEMUKAJYA.CO.-WAY KANAN_Keberadaan umat muslim di Bali tak lepas dari peran dakwah yang dilakukan oleh wali pitu di Bali. Peran wali pitu tak ubahnya seperti wali songo di Jawa. Wali pitu ini terdiri dari 7 orang yang memiliki asal-usul berbeda. Saat ini, makam wali pitu pun menjadi destinasi wisata religi yang cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan.Menurut catatan sejarah, Raja Gelgel pertama, yakni Dalem Ketut Ngelesir pernah melakukan perjalanan ke Majapahit. Ketika kembali ke Bali, dia disertai dengan kedatangan 40 orang pengiring, yang dua di antaranya bernama Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil yang beragama Islam. Keduanya bertugas sebagai abdi dalem di Kerajaan Gelgel.

Wali Seseh Mengwi adalah anggota wali pitu di Bali yang punya nama asli Pangeran Mas Sepuh atau Raden Amangkurat. Beliau merupakan anak dari Raja Mengwi V yang menikah dengan anggota Kerajaan Blambangan .Makam beliau bisa ditemukan di Pantai Seseh yang terletak di Desa Munggu, Mengwi dan berada dekat dengan jalur menuju ke Tanah Lot.

Wali Bukit Bedugul menjadi wali pitu di Bali yang begitu terkenal. Apalagi, makam wali yang bernama asli Syeh Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi pernah mengalami fenomena yang begitu istimewa. Ketika terjadi letusan Gunung Agung yang besar di Bali pada tahun 1963, makam ini masih berdiri dengan kokoh dan tidak tersentuh satu butir pasir pun.

Wali Karangrupit merupakan wali pitu di Bali yang spesial karena berasal dari China yang memiliki nama asli Kwan Pao-Lie dan punya gelar sebagai Syech Abdul Qodir Muhammad. Beliau pernah menjadi murid Sunan Gunung Jati Cirebon. Oleh karena itu, pemahamannya terhadap Agama Islam begitu diakui banyak orang. Lokasi makamnya, bisa ditemukan di Desa Temukus.

Wali Negara Memiliki nama asli Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih dan merupakan tokoh Islam yang berasal dari Banyuwangi. Datang ke Bali pada 1917 dan sempat menuntut ilmu ke Mekkah pada tahun 1935. Tak hanya itu, wali yang wafat di usia 107 tahun pada tahun 1997 ini juga mendirikan sebuah pondok bernama Pondok Pesantren Syamsul Huda. Lokasi makamnya bisa ditemukan di Kampung Ampel Loloan Barat, Jembrana.

Wali Kusamba adalah tokoh wali pitu di Bali yang memiliki nama asli Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al Khamid. Beliau dikenal sebagai guru bahasa Melayu salah satu Raja Klungkung, yakni Dalem I Dewa Agung Jambe. Karena perannya yang begitu penting bagi kerajaan, tak heran kalau Makam Wali Kusamba tidak hanya dikunjungi umat Islam, tetapi juga umat Hindu di Bali.

Wali Kembar Karangasem Sesuai dengan namanya, ada dua wali yang lokasinya berada di satu tempat, yakni Syeh Maulana Yusuf Al-Baghdi dan Habib Ali Bin Zaenal Abidin Al-Idrus. Asal-usul kedua makam tua ini tidak begitu jelas. Konon, kedua makam ini sudah berusia sangat tua, mencapai 400 tahun.

Pangeran Sosrodiningrat dan Makam Raden Ayu Pemecutan Pangeran Sosridiningrat merupakan wali pitu di Bali yang berasal dari kerajaan Mataram. Kedatangannya di Bali bertujuan untuk membantu Raja I Gusti Ngurah Gede Pemecutan dalam berperang melawan Kerajaan Mengwi. Selanjutnya, Pangeran Sosrodiningrat menikah dengan Raden Ayu Anak Agung Rai dan memperoleh anak bernama Dewi Khadijah. Makam salah satu wali pitu ini bisa ditemukan di Jalan Batukaru, Pemecutan.Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) sangat berperan dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, khususnya Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah pendiri dinasti kesultanan Banten yang dimulai dengan putranya, Sultan Maulana Hasanudin. Pada tahun 1527, Sunan Gunung Jati menyerang Sunda Kelapa di bawah pimpinan panglima perang Kesultanan Demak, Fatahillah.

Sunan Gunung Jati merupakan sosok yang cerdas dan tekun dalam menuntut ilmu sampai ke Mekkah dan belajar pada Syekh Tajudin Al-Qurthubi. Kemudian berlanjut ke Mesir dan berguru pada Syekh Muhammad Athaillah Al-Syadzili, ulama bermadzhab Syafi’I dan mempelajari tasawuf. Ia mendapat bimbingan dari Syekh Ataillah. Hingga kemudian pulang ke Nusantara untuk berguru pada Syekh Maulana Ishak di Pasai, Aceh. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke Karawang, Kudus, sampai di Pesantren Ampeldenta, Surabaya hingga berguru pada Sunan Ampel.SeteIaah itu dia diminta untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon dan menikah dengan Nyi Ratu Pakungwati, putri dari Pangeran Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman, penguasa Cirebon Cirebon dan menjadi guru agama di pasantern yang dibuatnya. Setelah masyarakat Cirebon banyak yang memeluk agama Islam, ia melanjut berdakwah ke Banten.

Sunan Ampel atau Raden Rahmat memulai dakwahnya dari sebuah pondok pesantren yang didirikannya di Ampel Denta, Surabaya. Ia d memiliki diantaranya Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Ketika mendapat tanah dari Prabu Brawijaya di Ampel Denta, ia pun mendirikan masjid yang dijaga oleh oleh Mbah Sholeh, dan makam Mbah Sholeh samai sekarang ada di samping masjid itu. Sunan Ampel kemudian bergumam, “Seandainya Mbah Sholeh masih hidup, pasti masjid ini tetap bersih.” Maka seketika itu juga sosok serupa Mbah Sholeh muncul. Ia lantas menjalankan rutinitas yang biasa dilakukannya. Namun tak lama kemudian meninggal lagi dan dimakamkan persis di samping makam Mbah Sholeh sebelumnya. Peristiwa serupa ini Kembali terulang hingga sembilan kali. Kisah kematian Mbah Sholeh baru benar-benar terjadi setelah Sunan Ampel sendiri meninggal.Metode dakwah Sunan Ampel terkenal unik, Ia melakukan akulturasi dan asimilasi dari aspek budaya pra-Islam dengan Islam melalui jalan sosial, budaya, politik, ekonomi, mistik, ritual, tradi keagamaan, maupun konsep sufisme yang khas untuk merefleksikan keragaman tradisi muslim seperti yang berkembang sampai sekarang.Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dikenal dengan nama Maulana Maghribi (Syekh Maghribi). Ia diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke 14. Ia merupakan guru para wali lainnya. Sunan Gresik berasal dari keluarga muslim yang taat. Kendati ia belajar agama Islam sejak kecil, namun tidak diketahui siapa saja gurunya hingga ia menjadi ulama, hingga kemudian ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam ke Asia Tenggara dan berlabih di Desa Leran, Gresik. Ketika itu Gresik merupakan bandar kerajaan Majapahit yang masih dominan memeluk agama Hindu dan Buddha. Sambil pedagang dan menjadi tabib, dia terus berdakwah.Sunan Gresik berhasil mengundang simpati masyarakat, termasuk Raja Brawijaya. Akhirnya, ia diangkat sebagai Syahbandar atau kepala Pelabuhan sambal mengajarkan cara bercocok tanam kepada masyarakat. Strategi dakwahnya yang menyejukkan diterima oleh masyarakat setempat.Sunan Bonang agau Syekh Maulana Makdum Ibrahim, putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila), artinya Sunan Bonang adalah Pangeran Majapahit. Karena ibunya adalah putri Raja Majapahit dan ayahnya menantu Raja Majapahit. Sunan Bonang menyebarkan ajaran agama Islam dengan cara menyesuaikan diri terhadap corak kebudayaan masyarakat Jawa. Ia menciptakan gending-gending yang mengusung nilai-nilai keislaman. Dalam setiap bait lagu ciptaannya diselingi ucapan dua kalimat syahadat sehingga musik gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan istilah sekaten, seperti acara yang selalu dilakukan oleh Kraton Yogyakarta. Laku spiritual Sunan Bonang dapat diikuti dalam Kisah Hidup Sejarah Karomah & Ajaran Spiritual yang disusun oleh Asti Musman.Sunan Giri memiliki nama asli Raden Paku. Ia merupakan putra Maulana Ishak yang mendapat tugas dari Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Blambangan. Ia nyantri di pesantren Ampel Denta. Lalu menunaikan ibadhah haji bersama Sunan Bonang. Sepulangnya dari haji, ia singgah di Samudra Pasai untuk memperdalam ilmu agama. Sunan Giri sempat mendirikan pesantren di daerah Giri, sehingga mampu mengirimkan banyak juru dakwah ke berbagai daerah di nusantara. Ia terbilang ahli tata negara. Sunan Drajat alias Raden Qasim merupakan putra Sunan Ampel. Ia terkenal berjiwa sosial tinggi. Banyak anak yatim piatu yang ditolongnya, fakir miskin, dan orang sakit. Ia memiliki perhatian yang sangat besar terhadap masalah sosial. Sunan Drajat menyebarkan agama Islam di Lamongan, Jawa Timur dan sekitarnya. Dia salah seorang Wali Songo yang memiliki banyak nama, yaitu Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, dan Maulana Hasyim. Pada 1484, ia medapat dari Raden Patah julukan Sunan Mayang Madu. Kisah hidupnya sudah dibukukan berjudul Sunan Drajat: Merantau Untuk Berdakwah. Ia membangun daerah baru di dalam hutan belantara dan mengubah hutan itu menjadi daerah yang berkembang, subur, serta makmur. Daerah tersebut bernama Drajat, oleh sebab itu ia diberi gelar Sunan Drajat.Sunan Muria adalag salah satu dari Wali Songo yang sangat berjasa bagi penyebaran agama Islam di daerah pedesaan. Ia gemar bergaul dengan masyarakat bawah. Dengan car aitu masyarakat mudah menerima ajaran yang disampaikannya. Ia tekenal dengan istilah “topo ngeli”. Artinya, menghanyutkan diri dalam masyarakat. Sunan Muria berdakwah dengan metode tersebut hingga ke Gunung Muria dan mendapatkan gelar tersebut dengan mendirikan masjid dan pesantren, serta menjadi tempat dirinya dimakamkan. Selain itu, ia juga berdakwah lewat kesenian seperti gamelan, wayang, dan tembang jawa. Ajaran Sunan Muria meliputi penghayatan kebenaran dan ketaatan pada Allah SWT, wirid, kesederhanaan, kedermawanan, dan ajaran dakwah secara bijak dalam menghadapi budaya masyarakat setempat. Diantara hasil kesenian peninggalan Sunan Muria yang masih bisa dipelajari hingga saat ini adalah tembang Kinanthi dan Sinom. Sunan Kudus Bernama asli Jafar Sadiq. Ia mendapat gelar dari kalangan wali dengan julukan Wali Al-ilmi yang berarti orang yang berilmu. Ia juga dipercaya untuk memegang pemerintahan di daerah Kudus. Ia merupakan putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan, dekat Blora. Sunan Kudus tak hanya belajar dari ayahnya, tapi juga belajar kepada Kyai Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan Sunan Ampel.Sunan Kalijaga yang juga dikenal Bernama Raden Sahid merupakan anak dari adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Sebagai budayawan dan seniman seni suara, seni ukir hingga seni busana, ia pun menciptakan aneka cerita wayang yang bercorak keislaman. Sunan Kalijaga memperkenalkan bentuk wayang yang terbuat dari kulit kambing atau biasa dikenal sebagai wayang kulit. Sebab, pada masa itu wayang populer dilukis pada semacan kertas atau wayang beber. Dalam seni suara, dialah pencipta lagu Dandanggula.Sebelum menjadi ulama, Sunan Kalijaga konon pengalaman hidup sebagai perampok atau begal. Bahkan sempat menjadi incarannya. Begitulah kejadiannya saat Sunan Kalijaga masih berusia muda. Dia juga terkenal karena acap melakukan tindak kekerasan.Aksi perampokannya kemudian diketahui oleh ayahnya. Tumenggung Wilantika pun marah, malu dan merasa namanya tercoreng karena kelakuan buruknya. Ia lantas mengusir Sunan Kalijaga dari rumah, meski yang terjadi adalah Sunan Kalijaga membongkar Gudang Kadipaten untuk membagi-bagikan bahan makanan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Kendati sudah diusir dari Tuban, Sunan Kalijaga tidak berhenti melakukan aksi pembegalan. Ia bahkan merampok orang-orang kaya di Kadipaten Tuban. Mengetahui hal itu, ayahnya tentu semakin marah. Sunan Kalijaga kembali diusir. Kali ini ia disuruh angkat kaki dari wilayah Kadipaten Tuban.Keluar dari daerah Tuban, saat itu Sunan Kalijaga bertemu dengan seseorang di hutan Jati Wangi. Orang tersebut adalah Sunan Bonang. Dan Sunan Kalijaga yang tidak mengenalnya, juga berniat untuk membegal Sunan Bonang. Kisahnya saat itu Sunan Kalijaga berhasil melumpuhkan Sunan Bonang. Ia pun meminta Sunan Bonang menyerahkan barang bawaannya.Tanpa disangka, Sunan Bonang menolak permintaan itu. Kemudian, Sunan Kalijaga pun menjelaskan alasannya membegal adalah untuk membantu orang miskin.Dalam cerita versi yang lain menyebutkan Sunan Kalijaga lantas meminta maaf dan bertobat lantaran Sunan Bonang menasihatinya setelah menunjukkan kesaktiannya, mengubah buah pohon aren menjadi emas. Pertobatan Sunan Kalijaga itu diiringi dengan permintaannya untuk menjadi murid Sunan Bonang. Namun syaratnya bagi Sunan Kalijaga harus bersemedi di pinggir kali sampai Sunan Bonang kembali. Kesepakatan pun disanggupi, hingga Sunan Bonang baru kembali ke tempat yang sama setelah tiga tahun lamanya. Ia lantas menemukan tubuh Sunan Kalijaga sudah dirambati semak belukar. Karena keteguhan hati Sunan Kalijaga, Sunan Bonang pun takjub. Atas peristiwa itu lah kemudian Raden Syahid diberi nama “Sunan Kalijaga”. Sunan Kalijaga juga dapat diartikan sebagai orang yang senantiasa menjaga semua aliran atau kepercayaan yang dianut masyarakat. Ia merupakan satu-satunya wali yang paham dan mendalami segala pergerakan, aliran atau agama yang hidup di tengah masyarakat. Ia memiliki cara yang unik saat menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, sehingga berhasil mengenalkan ajaran Islam dengan cara memadukanya dengan budaya Jawa. Sunan Kalijaga juga mengarang sebuah tembang Jawa yang sangat terkenal sampai saat ini, yaitu Ilir-Ilir.Perjalanan spiritual para Wali Pitu di Bali maupun Wali Songo di Jawa telah meyakinkan Eko Sriyanto Galgendu akan menemukan Wali Spiritual pada masa kini yang mampu membangun karakter bangsa dan negara Indonesia menuju tatanan yang lebih baik dan lebih beradab untuk nenyambut tatahanan peradaban dunia yang baru untuk menyongsong masa depan. Melalui gerakan kesadaran kebangkitan spirtitual bangsa Indonesia pantas menjadi pemimpin terdepan di dunia dengan segenap potensinya – alam, budaya dan pamor dari sejarah masa silam yang pernah Berjaya seperti yang pernah dicapai para leluhur menyatukan Nusantara – akan menjadi bagian dari siklus perubahan besar setiap tujuh abad.Wali Sufi Maupun Wali Spiritual yang diharapkan oleh GMRI (Gerakan Miral Rekonsiliasi Indonesia) seperti terus diperjuangkan Eko Sriyanto Galgendu dan kawan-kawan memang pantas muncul dan tampil untuk mendampingi pemimpin bangsa Indonesia yang dapat menjadi mercusuar dunia sebagai penerang jagat kegelapan di abad ini. Siklus pergantian setiap tujuh abad itu kini sedang terur bergulir untuk melahirkan putra-putra terbaik bangsa yang unggul seperti yang pernah dicapai pada masa kejayaan bangsa-bangsa Nusantara tempo dulu.

Baca Juga  2360 Calon Anggota PPS Se-Kabupaten Way Kanan ikuti Tes Tertulis Secara Serentak

Muara Karang, 6 Februari 2022 Penulis:Jacob Ereste(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *